Menjahit Harapan dari Desa Kesambi: Kisah Pengrajin Tas yang Menginspirasi
Oleh: Tim KKN Desa Kesambi
Perkembangan zaman bergerak kian cepat. Di tengah derasnya arus perubahan, setiap orang dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan peluang—termasuk para penyandang disabilitas. Di balik berbagai keterbatasan, banyak dari mereka yang membuktikan bahwa tantangan fisik bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Ahmad Sa’ad, seorang penyandang disabilitas asal Desa Kesambi yang mengelola usaha kerajinan tas. Sejak usia lima tahun, kedua kakinya mengalami kelumpuhan akibat polio setelah terjatuh dari sepeda. Masa kecil hingga remajanya tidaklah mudah; rasa minder dan kurang percaya diri kerap menyelimuti hari-harinya.
Titik balik kehidupannya bermula saat ia mengikuti pembinaan di Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Di sana, Ahmad tidak hanya memperoleh keterampilan dan relasi baru, tetapi juga menemukan kembali kepercayaan dirinya. Tak berhenti di situ, ia juga aktif di bidang olahraga dan berhasil mengukir prestasi sebagai juara lempar cakram tingkat Jawa Tengah. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menghentikan langkah seseorang untuk berkembang.
Ketertarikan Ahmad pada dunia menjahit berawal dari sang kakak yang lebih dahulu berbisnis tas. Dari sana, ia belajar secara bertahap hingga akhirnya memberanikan diri merintis usaha sendiri setelah menikah. Ketekunannya tidak hanya berdampak pada perekonomian keluarga, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Ahmad membagikan keterampilannya kepada sesama penyandang disabilitas di Desa Kesambi melalui pelatihan pembuatan tas, membimbing mereka dengan sabar agar mampu mandiri secara ekonomi.
Kendati demikian, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Dalam dua tahun terakhir, pesanan mengalami penurunan signifikan hingga ia terpaksa merelakan para karyawannya dan kembali menjalankan usaha berdua bersama sang istri. Alih-alih menyerah, Ahmad memilih beradaptasi dengan mempelajari pemasaran digital melalui TikTok dan Shopee untuk memperluas jangkauan pasar.
Melihat potensi dan tantangan tersebut, kelompok 111 KKN UIN Sunan Kudus hadir memberikan pendampingan UMKM. Melalui diskusi mendalam mengenai kendala pemasaran digital, tim KKN bersama Ahmad merancang beberapa langkah strategis sederhana: memperkuat identitas usaha lewat desain logo baru, merancang banner promosi, membuat plang lokasi rumah produksi, mengoptimalkan Google Maps, serta membagikan praktik terbaik penggunaan fitur TikTok dan Shopee.
Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa pemberdayaan tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru dari nol. Terkadang, yang dibutuhkan adalah berjalan berdampingan dengan mereka yang telah lama berjuang—membantu beradaptasi dengan zaman dan memastikan karya mereka dikenal lebih luas. Sebab pada akhirnya, setiap usaha yang diberi kesempatan untuk berkembang bukan hanya menguatkan pemiliknya, melainkan juga membentangkan harapan bagi banyak orang.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar